Sabtu, 30 Juni 2012
Rabu, 09 Mei 2012
Hidup Bahagia dalam Duka, Mungkinkah?

Adakah
manusia yang bisa bahagia dengan duka? Rasanya tidak mungkin ada
manusia yang mau menjadikan duka sebagai suatu kebahagiaan dalam
hidupnya. Itulah mengapa banyak orang yang kini rela melakukan kejahatan
hanya karena agar dia tidak kehilangan pekerjaan, jabatan, ataupun
kehormatan.
Hampir setiap orang menolak yang
namanya duka dan berusaha sekuat tenaga untuk hidup bahagia. Akibatnya,
tidak sedikit di antara mereka yang bersikap pragmatis, egois,
individualis, dan hedonis. Bahkan, mereka mau melakukan apa saja yang
penting dia tidak miskin, tidak dikucilkan dan tidak dihukum.
Walaupun
kadangkala hatinya menjerit karena letupan-letupan kesadaran yang
terkadang muncul akan perilakunya yang telah melanggar aturan Tuhan,
mereka tetap saja lebih memilih menjauh dari duka demi hidup bahagia.
Ingkar janji, dusta, dan khianat dipaksa menjadi karakter dalam dirinya
demi untuk menghindari duka.
Apalagi di zaman
sekarang yang himpitan ekonomi begitu berat, kejujuran sudah dianggap
bukan masanya lagi, dan korupsi diyakini wajar, sehingga menjadikan
sebagian besar umat manusia makin berani menggadaikan imannya. Padahal,
kalau dicermati, duka yang mereka hindari dengan cara curang itu,
sejatinya adalah jalan tol menuju duka nestapa yang tiada tara.
Duka
di dunia hanyalah sementara sebagaimana senang di dunia juga tidak
selamanya. Sementara pembalasan Tuhan pasti adanya. Seorang Muslim wajib
untuk hidup dengan tidak melanggar aturan Tuhan. Sekalipun terkadang
untuk hidup seperti itu harus banyak melakukan pengorbanan, merasakan
penderitaan, kesengsaraan, dan duka nestapa yang mendalam.
Tetapi,
itulah mahar yang harus kita berikan untuk bisa mendapat kebahagiaan
abadi di dalam surga. Apabila kita telah memahami hal ini, insya Allah
kita akan bisa menjalani hidup ini tetap bahagia meskipun harus
bersahabat dengan duka. Duka sejatinya adalah mahar untuk bahagia.
Hal
itulah yang dilakukan oleh Nabi Yusuf AS. Sejak kecil dia hidup tidak
dalam kebahagiaan. Dia menjadi anak Nabi Ya’kub yang dibenci oleh
saudara-saudaranya dia pun harus rela dilempar ke dalam sumur. Kemudian,
dia hidup sebatang kara di negeri orang dengan status sebagai budak
belian.
Tak cukup di situ, Nabi Yusuf juga
difitnah, hingga harus mendekam dalam penjara. Tetapi, semua itu dilalui
dengan nuansa hati yang tetap bersih dari kotoran nafsu. Kebersihan
hatinya membuatnya rela di penjara.
“Yusuf
berkata, ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi
ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu
daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)
dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh’." (QS Yusuf : 33).
Demikianlah
sikap Nabi Yusuf terhadap duka dalam hidupnya. Setiap fase ujian,
dilaluinya dengan penuh kesabaran dan harapan akan pertolongan Allah
SWT. Hingga ia diangkat derajatnya oleh Allah SWT dengan menjadi
pengelola ekonomi di Mesir.
Oleh: Dr Abdul Mannan
Pentingnya Merawat dan Memperbaiki Batin

Oleh: Ali Akbar Bin Agil
DALAM
sebuah kisah sufi yang terkenal, tersebutlah sebuah kisah tentang
seorang pemuda ahli ibadah dan seorang pecinta dunia. Suatu hari, si
ahli ibadah memasuki hutan yang penuh dengan singa. Melihat kedatangan
pemuda ahli ibadah tadi, singa-singa di hutan itu merasa senang dan
menyambutnya. Sementara itu, si pecinta dunia yang tatkala itu sedang
berburu, baru saja memasuki hutan yang sama. Melihat kedatangan si
pecinta dunia dan rombongannya, singa-singa itu mengaum siap menerkam
sehingga membuat mereka merasa ketakutan.
Si
ahli ibadah melihat kejadian itu dan dia berusaha menenangkan
singa-singa tersebut. Maka berkatalah si ahli ibadah kepada si pecinta
dunia dan orang-orangnya setelah menenangkan singa-singa ini, “Kalian
hanya memperbagus dan memperindah penampilan luar saja, maka kalian
takut kepada singa. Adapun kami, kami selalu memperbaiki dan memperbagus
batin kami, sehingga singa pun takut kepada kami.”
Kisah
di atas memuat pelajaran penting tentang hati sebagai pusat kebaikan.
Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh
anggota jasmani menuju perbuatan baik atau jahat. Untuk merawat dan
memperindah hati agar bercahaya, maka seseorang perlu terus-menerus
mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening
dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu
dengki, riya`, takabbur, dan cobaan dijalani dengan ikhlas.
Memelihara
hati bukanlah tugas yang sulit. Ini merupakan tugas yang wajib
dilakukan setiap Muslim. Andaikata pun sulit atau mudah, itu harus
dilakukan agar hati yang bersih berpendar dengan sinar kebaikan. Hati
adalah wajahnya jiwa. Orang yang jiwanya baik, hatinya akan baik. Cara
memperbaiki jiwa dengan memperbaiki hati.
Hati,
dalam pandangan Imam Abdullah Al-Haddad adalah tempat penglihatan
Allah. Sebelum yang lain, Allah melihat hati seseorang terlebih dahulu.
Di sisi berbeda, anggota lahir badan kita menjadi tempat perhatian
sesama makhluk yang acap dipandang dengan pandangan kekaguman.
Dalam sebuah doanya, Rasulullah SAW mengatakan :
"Allahummaj`al
Sariiratiy Khairan Min `Alaaniyatiy Waj`al `Alaaniyatiy Shaalihah." (Ya
Allah, jadikanlah keadaan batinku lebih baik dari keadaan lahirku dan
jadikanlah keadaan lahirku baik). Inilah salah satu doa yang sering
dipanjatkan oleh Nabi kepada Allah. Di dalamnya terkandung permintaan
agar menjadikan suasana hati lebih bagus ketimbang keadaan lahir.
Pertanyaanya,
mengapa nabi menitikberatkan pada batin atau hati? Imam Abdullah
menjawab: “Ketika hati baik, maka keadaan lahir akan mengikuti kebaikan
itu pula. Ini merupakan sebuah kepastian.” Keyakinan ini didasarkan pada
peringatan sabda Nabi Muhammad SAW sendiri: “Di dalam jasad ada sekerat
daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak
maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu
adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hati Sebagai Pusat Segalanya
Setiap
orang pasti menyukai keindahan. Banyak orang yang memandang keindahan
sebagai sumber pujian. Ribuan kilometer pun akan ditempuh demi mencari
suasana dan pemandangan yang indah. Uang berjuta-juta akan dirogoh untuk
memperindah pakaian. Waktu akan disediakan demi membentuk tubuh yang
indah.
Perhatikan bagaimana Rasulullah SAW yang
meski pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa dan
pangkat, tapi tidak berkurang kemuliaannya sepanjang waktu. Rasulullah
SAW tidak menempuh ribuan kilo, merogoh harta demi singgasana dari emas
yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi,
penghargaan terhadap beliau tidak luntur dan menyusut ditelan masa.
Beliau adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian
hatinya. Kunci keindahan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu
merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah
pangkal kemuliaan sebenarnya.
Hati adalah
penggerak, raja, poros, dan pusat segala ibadah. Hati yang thuma`ninah
(tenang) akan dapat membuat orang ringan bangun malam, membaca
Al-Qur`an, datang ke masjid, dan semua amal shalih lainnya. Hati bisa
mengajak kepada kebaikan sekaligus di saat yang sama bisa mengajak
kepada kejahatan.
Kita melihat tidak sedikit
orang yang mempunyai anggapan bahwa melakukan maksiat tidaklah mengapa
asal hati kita baik. Anggapan dan keyakinan seperti ini jelas merupakan
kesalahan besar. Menurut Imam Abdullah, orang yang berpendirian semacam
ini adalah pendusta besar. Lahir dan batin haruslah berimbang dan
sama-sama baik. Seumpama makanan, ia akan diminati orang jika isi dan
bungkusnya baik.
Kebaikan yang dibuat-buat juga
harus dihindari. Ada orang yang berjalan membungkuk, mengenakan tasbih,
pakaiannya pakaian orang saleh. Di balik semua ini, kita melihat dalam
batinnya orang seperti ini tertanam cinta dunia mengakar kuat,
keangkuhan, kebanggaan pada diri sendiri, serta kegilaan pada pujian.
Menurut Imam Abdullah, orang semacam ini adalah orang yang berpaling
dari Allah.
Dalam sebuah peristiwa, Sayidina
Umar ra. melihat seorang yang berjalan di hadapannya dengan membungkuk
sebagai bentuk ke-tawadhu-an. Melihat ini, Sayidina Umar berkata, “Takwa
itu bukan dengan cara membungkukkan badanmu. Takwa itu ada di dalam
hati.”
Bagaimana jika seseorang tidak mampu
memperbaiki batin lebih dari keadaan lahirnya? Menurut Imam Abdullah
Al-Haddad, hendaknya ia menyamakan kebaikan lahir dan batin meski
idealnya meningkatkan kebaikan batin lebih diutamakan dan disukai.
Orang
yang memiliki hati yang bersih, tak pernah absen bersyukur kepada
Allah, Penguasa jagat alam raya ini. Pribadinya menyimpan mutu dan
pesona. Tak mudah jatuh dalam kesombongan dan kepongahan di kala merebut
sesuatu namun tetap istiqamah tunduk pada Allah.
Orang yang mempunyai hati yang baik akan terus bersikap rendah hati walaupun berpangkat tinggi dan harta melimpah.
Mari
bersihkanlah hati ini, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan
sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang, bersinar dan
bercahaya serta selalu cenderung kepada kebaikan dan takwa.*
Penulis staf pengajar di Ponpes. Darut Tauhid, Malang- Jawa timur
rep. hidayatullah.com/moslembrothers.com
Inilah Lima Keutamaan Hidup Jujur
Banyak
orang mengajar kebahagiaan di balik kemegahan materi. Padahal, itu
semua hanyalah kesemuan belaka. Kalau ingin bahagia jujurlah. Jujur
kepada Allah sebagai hamba-Nya, jangan basa-basi dan jangan
setengah-setengah. Jujur sebagai suami maka selalu menjauhi dosa dan
memberikan nafkah secara halal dan maksimal. Jujur sebagai istri maka
selalu menjaga kehormatan diri dan harta suami dan benar-benar menjadi
tempat berteduh bagi suami. Jujur sebagai pemimpin maka selalu
menjunjung tinggi asa musyawarah dan bekerja keras untuk menegakkan
keadilan dan memastikan kesejahtraan rakyatnya.
Bila
kejujuran seperti tersebut di atas terwujud, banyak hikmah yang akan
dipetik. Pertama, jujur akan mengantarkan ke surga. Rasulullah SAW
bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan
kebaikan akan mengantarkan ke surga … dan sungguh kebohongan akan
mengatarkan kepada dosa, dan dosa akan mengantarkan kepada neraka .…”
(HR Bukhari-Muslim).
Berdasarkan ini, jelas
bahwa tidak mungkin kebaikan akan datang jika manusia yang berkumpul di
dalamnya adalah para pembohong dan pendusta. Bila di tengah mereka
menyebar kebohongan maka otomatis dosa akan semakin merajalela. Bila
dosa merajalela maka jamainanya adalah neraka.
Kedua,
jujur akan melahirkan ketenangan. Rasulullah SAW bersabda, “… maka
sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah keraguan
.…” (HR Turmidzi). Orang yang selalu jujur akan selalu tenang, sebab ia
selalu membawa kebenaran. Sebaliknya, para pembohong selalu membawa
kebusukan dan kebusukan itu membawa kegelisahan akibat kebusukannya. Ia
akan selalu dihantui dengan kebohongannya dan takut hal itu akan
terbongkar. Dan, bila seorang pembohong seperti ini menjadi pemimpin
maka ia tidak akan sempat mengurus rakyatnya, karena ia sibuk
menyembunyikan kebusukan dalam dirinya.
Ketiga,
jujur disukai semua manusia. Abu Sofyan pernah ditanya oleh Heraklius
mengenai dakwah Rasulullah SAW. Abu Sofyan menjelaskan bahwa di antara
dakwahnya adalah mengajak berbuat jujur. (HR Bukhari-Muslim).
Rasulullah
SAW terkenal sebagai manusia yang paling jujur. Bahkan, sebelum
kedatangan Islam, beliau sudah masyhur sebagai orang yang jujur.
Orang-orang kafir Makkah pun mengakui kejujuran Rasulullah SAW,
sekalipun mereka tidak beriman. Bahkan, mereka memberi gelar al-Amin
(orang yang tepercaya) kepada Rasulullah. Selain itu, mereka juga selalu
menitipkan barang berharga kepada Rasul SAW.
Keempat,
jujur akan mengantarkan pelakunya pada derajat tertinggi. Rasulullah
SAW bersabda, “Siapa yang memohon dengan jujur untuk mati syahid, (maka
ketika ia wafat) ia akan tergolong syuhada sekalipun mati di atas
kasurnya.” (HR Muslim).
Dan kelima, jujur akan
mengantarkan pada keberkahan. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa
seorang pembeli dan pedagang yang jujur dalam melakukan transaksi
perdagangannya maka ia akan diberkahi oleh Allah. Sebaliknya, jika
menipu maka Allah akan mencabut keberkahan dagangannya. (HR Bukhari
Muslim). Wallahu a’lam.
Oleh: Dr Amir Faishol Fath
Minggu, 18 Maret 2012
Langganan:
Postingan (Atom)